Yudith's Blog

Coretan kecil Yudith di kala senggang...

My Photo
Name:
Location: Depok, West Java, Indonesia

Tuesday, January 26, 2010

Analisa XRD, XRF, ICP, AAS, Titrasi atau Gravimetri? Mana yang cocok untuk analisa bahan tambang?

Berikut ini sedikit penjelasan saya mengenai XRD, ICP dan teknik analisa lain untuk mineral tambang.
=> XRD = X-Ray Diffraction, salah satu teknik analisa untuk stuktur suatu mineral, garam, logam, bahkan senyawaan organik seperti DNA, vitamin dan drugs. Jika Anda ingin mengetahui mineral apa saja yang terkandung dalam suatu bahan tambang dan assosiasinya apa saja, teknik ini cukup tepat karena XRD bisa memberikan informasi mengenai bentuk molekul dan berapa sudut kristalnya. XRD bekerja berdasarkan difraksi sinar X yang dihamburkan oleh sudut kristal material yang dianalisa. Akan tetapi, kelemahannya, XRD kurang tepat jika digunakan untuk analisa quantitatif (jumlah atau kadarnya). Walaupun banyak orang meng-klaim bahwa XRD bisa memberikan informasi tentang "berapa kandungannya" namun masih kurang valid jika dibandingkan dengan teknik analisa lainnya di laboratorium. Umumnya XRD digunakan untuk analisa jumlah yang membutuhkan waktu cepat tapi tidak perlu akurat.
=> XRF = X-Ray Fluorescen, mirip dengan XRD namun perbedaannya adalah fluoresensi-nya yang digunakan untuk analisa. Suatu material tambang, cukup dibuat homogen dengan digerus dan dipadatkan atau dilebur, dicetak menjadi semacam bead atau kayak koin gitulah, tentunya dengan penimbangan tertentu. XRF lebih akurat dibandingkan XRD secara kuantitatif/jumlah. XRF bisa memberikan data baik dalam bentuk elemen maupun oksida. Analisanya-pun relatif cepat karena simultan (beberapa elemen atau oksida bisa dianalisa sekaligus dalam sekali running). Biayanya relatif murah juga kok. Kekurangannya : tidak bisa analisa untuk elemen atau oksida dalam kadar rendah (< 0.01 %). Untuk yang < 0.01% saya sarankan dengan ICP atau AAS.

=> ICP = Inductive Coupled Plasma, teknik analisa mineral khususnya logam yang saat ini sedang naik daun karena beberapa kelebihannya, antara lain : relatif cepat untuk analisa quantitatif yang akurat, analisa secara simultan (bisa analisa banyak logam sekaligus sekali running), relatif murah jika analisa > 20 elemen sekaligus tetapi akan menjadi mahal jika elemen yg ingin dianalisa < 10 elemen. ICP mampu menganalisa logam2 mulai dari ppb (part per billion), ppm (part per million) sampai % (percent) tetapi umumnya lebih akurat untuk kadar kecil (ppb sampai dengan ppm). Kekurangannya dibandingkan XRD : ICP hanya memberikan data analisa dalam bentuk elemen/unsur, bukan senyawaan maupun assosiasi mineral. Semua elemen yg ada dalam suatu bahan tambang akan dilarutkan dengan bahan kimia cair dan dibakar dengan suhu > 6000 K ( > 5727 oC) menjadi suatu plasma dan elektron yang tereksitasi di plasma itulah yang dianalisa.

=> AAS = Atomic Absorption Spectrophotometer, teknik analisa mineral logam yang mirip dengan ICP, tetapi dia hanya menganalisa per elemen (single). Jadi jika elemen yang akan di analisa 20 elemen, artinya AAS akan menganalisa 20x sesuai elemen yang diminta, tetapi pelarutannya cukup sekali saja. Jadi jika dibandingkan dengan ICP, kelemahannya adalah waktu analisa jadi lama. Dan beda dengan ICP yang cukup dijalankan oleh tingkat operator biasa, analisa AAS memerlukan skill dan pengalaman yang lebih tinggi. Jika elemen yang hendak dianalisa sedikit, AAS lebih menguntungkan karena hitungan biayanya per elemen.

=> Titrasi dan gravimetri, suatu teknik analisa klasik yang sudah terbukti paling valid untuk mineral dengan kadar tinggi (dalam %). Keuntungannya : selain valid utk kadar %, tidak membutuhkan instrumen mahal, mereka juga bisa digunakan untuk analisa dengan bentuk oksida-nya. Kekurangannya, biayanya mahal karena menggunakan bahan kimia baik padatan, cair maupun gas, waktu analisanya relatif lebih lama. Namanya juga klasik....semakin jadul, semakin dicari tetapi mahal....hehehe

OK, sekian dulu penjelasan saya. Semoga bisa membantu.
Jika ada yang bisa kami bantu, jangan sungkan untuk menghubungi saya di yani2477@gmail.com or call me or whatsapp on 085710358725.


Write by : Yani Damayanti




Labels: , , , , , , , , , , , , , , ,

Wednesday, December 16, 2009

Masa Kedaluwarsa Tabung Gas LPG

Tabung LPG yang sudah kadaluwarsa tidak aman untuk digunakan dan bisa menyebabkan kecelakaan seperti tabung gas meledak. Berhati-hatilah ketika menerima tabung LPG dari penjual manapun.



Usia normal tabung LPG adalah 20 tahun. Setiap 5 tahun sekali (bisa lebih cepat, tergantung juga kondisi fisik tabung) dilakukan retest. Jika masih layak, tabung akan dicat ulang dan diberi stempel batas kadaluwarsa baru (5 tahun sejak tanggal retest tsb) Batas kadaluwarsa tabung LPG asli dari Pertamina bisa dilihat dari stempel pada badan tabung dengan format mm-yy. Jadi kalau ada tabung LPG distempel 10-07, artinya tabung LPG tersebut sudah di uji kelayakan (retest) pada bulan Oktober 2002 dan masa kedaluwarsa tabung tersebut adalah bulan Oktober 2007.

Di bagian belakang hand guard, ada beberapa kode. Artinya adalah sebagai berikut :


1. WC 26.2 L : Water Content. Artinya kalo tabung diisi air, bakalan sebanyak 26.2 liter.
2. TW 15.2 kg : Tare Weight. Berat Kosong Tabung.
3. Tanda Ο (lingkaran) dan 07-2001 : Tabung lulus uji pada Juli 2001.
4. TP 31 kg/cm2 : Total Pressure max tabung 31 kg/cm2.
5. PR 11 kg : Kalo diisi Propane murni muat 11 kg.
6. BU 13 kg : Kalo diisi Butane murni muat 13 kg.

Note : LPG merupakan gas campuran Propane & Butane.

Selain masa kedaluwarsa tabung, hal lain yang perlu kita perhatikan antara lain :
  •  Tabung LPG yang karatan juga berpotensi bocor. Tindakan yang lebih aman adalah minta tukar tabung.
  • Timbang dahulu sebelum membeli. Berat gas LPG = berat total – berat tabung (seperti yang tertera di hand guard sebagi TW).
  • Untuk gas LPG tabung 50 kg, jika dibagian depan tabung LPG tertulis TW 15.2 kg (artinya berat tabung) maka berat total tabung tersebut : 15.2 + 50 = 55.2 kg
  • Cek selalu knop dan seal tabung termasuk instalasi gas untuk mencegah kebocoran gas yang bisa mengakibatkan kebakaran.
Jika belum memiliki timbangan dengan kapasitas 50 s.d. 120 kg, maka sebagai rujukan adalah informasi dari PT Jaya Gas Indonesia sebagai supplier gas LPG  yakni :

  • Tabung LPG 12 kg mempunyai kemampuan menahan tekanan sampai 30 kg/cm2.
  • Tabung LPG 50 kg mempunyai kemampuan menahan tekanan 80 – 130 kg/cm2.
Jadi, regulator sampai tekanan 150 kg/cm2 bisa digunakan sebagai petunjuk untuk isi gas LPG tersebut.

Ditulis Oleh : Yani Damayanti

Sumber :
1. Produk PT Jaya Gas Indonesia ( http://www.jayagas.co.id/lpg.php )
2. Masa Kedaluwarsa Tabung Gas LPG ( http://www.indonesiaindonesia.com/ )

Labels: